Friday, July 2, 2010
Anak-Anak Khitan di Bogem
Setiap liburan sekolah, anak-anak usia SD, bahkan beberapa usia SMP, yang belum dikhitan pada memanfaatkan waktu liburnya untuk khitan. Di Jogja, salah satu tempat untuk khitan atau supit yang terkenal adalah di Bogem. Wuih, dari namanya saja sudah serem, yakni Bogem, akan tetapi ini hanyalah nama daerah yang berada di Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Tepatnya Juru Supit Bogem.
Sebenarnya, ada saja yang khitan tidak bertepatan dengan liburan sekolah, namun ketika liburan sekolah jauh lebih ramai. Sebagaimana liburan sekolah tahun ini, tempat khitan yang didirikan oleh Alm. Raden Ngabehi Noto Pandoyo sejak tahun 1939 ini juga dipadati pengunjung. Tidak hanya anak-anak dari Daerah Istimewa Yogyakarta, bahkan yang dari luar kota juga banyak. Tempat khitan yang berada persis di sisi utara Jalan Solo – Jogja KM.16 itu semakin dipadati pengunjung karena ternyata yang mengantar anak-anak yang khitan itu tidak hanya orangtuanya; ada yang diantar kakek-neneknya, pakde-budhenya, bahkan ada yang diantar para tetangganya.
Agar pada saat datang ke tempat khitan sang anak tidak menunggu terlalu lama, biasanya beberapa hari atau sehari sebelumnya orangtuanya atau keluarga sudah mendaftar untuk khitan pada hari yang diinginkan. Pada saat datang, keluarga tinggal mendaftar ulang, setelah itu anak yang akan dikhitan dipakaikan sarung dan dilepas celana dalamnya, kemudian duduk di deret kursi antrian untuk memasuki ruang khitan. Urutan dipanggil ini sesuai dengan nomor daftar ulang ketika datang ke tempat khitan.
Pada saat memasuki ruang khitan tidak satu per satu anak dipanggil, akan tetapi langsung beberapa anak secara berkelompok. Ketika sang anak memasuki ruang khitan, keluarga menunggu di luar ruangan. Tidak lama kemudian, setelah anak selesai dikhitan, keluarga dipanggil dari pintu yang lain untuk memasuki ruang istirahat sementara setelah anak dikhitan. Di ruang inilah anak-anak berbaring di dipan-dipan yang tersedia. Dengan sukacita masing-masing keluarga menemui anaknya yang dikhitan. Lalu, ada petugas yang menerangkan kepada seluruh keluarga yang hadir di ruangan itu tentang bagaimana caranya merawat dan mengobati anaknya yang telah dikhitan.
Sumber: Akhmad Muhaimin Azzet
Sunday, June 27, 2010
Musim khitan di masa liburan
Di dalam Islam berkhitan adalah sunnah Rasul bagi anak laki-laki sebelum akil baliq (masa menginjak dewasa). Tanda seorang menjadi muslim adalah dia dikhitan. Ajaran khitan ternyata tidak hanya dalam agama Islam saja, penganut Yahudi juga melaksanakan khitan. Dalam sejarahnya Nabi Isa (Yesus) juga dikhitan karena dia terlahir dari seorang Yahudi, namun pengikut agama Nasrani saat ini tidak melaksanakan khitan sebagaimana Nabi Isa. Saya tidak tahu alasannya, mungkin pembaca yang beragama Kristen bisa menjelaskannya.
Khitan artinya membuang kulit kulup penutup (maaf) alat kelamin laki-laki. Ilmu kedokteran sudah mengakui kalau khitan ternyata mempunyai manfaat ditinjau dari sudut medis, yaitu untuk menghindari penularan penyakit kelamin, HIV, dan sebagainya. Kulit penutup alat kelamin laki-laki tadi adalah sarangnya kotoran yang sulit dibersihkan dan tempat subur kuman penyakit. Dengan membuang kulup tadi maka seorang laki-laki terhindar dari penyakit melalui alat kelaminnya. Karena alasan medis tadi, banyak orang yang bukan muslim sekalipun melaksanakan khitan, termasuk di klink khitan yang akan saya ceritakan nanti.
Tiap suku bangsa di Indonesia mempunyai tradisi khitan masing-masing. Orang Sunda mengkhitankan anaknya ketika masih balita, yaitu umur 3 hingga 5 tahun. Sebaliknya orang Jawa mengkhitankan anak ketika mendekati akil baliq, yaitu kira-kira masih kelas 6 SD atau umur 12 tahun. Sedangkan orang Minang seperti saya tengah-tengahnya, yaitu ketika anak berumur 9 atau 10 tahun (kelas 4 atau 5 SD). Di tanah Sunda prosesi khitan diakhiri dengan pesta syukuran dengan menghadirkan kesenian sisingaan. Anak laki-laki yang telah dikhitan dinaikkan ke atas sisingaan sebagai pengantin sunat, lalu ditandu oleh orang dewasa yang membawa sisingaan itu. Tujuannya adalah untuk memberi hiburan bagi anak dan melupakan rasa sakit akibat disunat. Saat ini kesenian sisingaan sudah banyak digantikan dengan orgen tunggal.
Sejak awal tahun 2010 saya sudah survei tempat-tempat khitan dan bertanya kepada teman-teman serta tetangga. Saya juga membaca tentang teknik khitan yang beraneka ragam, ada yang cara biasa, ada pula dengan teknik laser (yang sebenarnya adalah pisau elektrik atau cauter). Pokoknya cari tempat khitan yang tidak menimbulkan terlalu sakit bagi anak. Pilihan saya jatuh pada Klinik Khitan Dokter Seno (Seno Medika) di Jalan Ahmad Yani, Cicadas Bandung. Klinik ini memang sudah terkenal sejak tahun 1973 sebagai tempat khitan. Alasan memilih tempat ini berdasarkan pengalaman orang yang anaknya dikhitan. Katanya khitan oleh Dokter Seno tidak terasa sakit dan cepat sembuh (tiga hari sudah sembuh). Selain itu luka khitan tidak diperban. Oh ya, Dokter Seno juga sudah pengalaman mengkhitan anak-anak berkebutuhan khusus seperti autis, hiperaktif, down syndrome, dan sebagainya
Yang disunat adalah anak, tetapi yang stres adalah orangtuanya. Orangtua stres kalau nanti anaknya meronta, ketakutan, takut banyak pendarahan, dan pelbagai pikiran buruk lainnya menghantui. Sayapun begitu, malam sebelum dikhitan saya tidak bisa tidur membayangkan apa yang terjadi esok hari. Waktu khitan yang saya pilih adalah subuh. Waktu terbaik untuk khitan adalah dinihari hingga pagi hari sebab waktu itu aktivitas anak belum banyak bergerak sehingga peredaran darahnya belum terlalu lancar (tidak banyak pendarahan kalau dikhitan).
Setelah shalat Subuh kami membawa anak ke klinik dokter Seno. Oalah, ternyata musim liburan ini banyak sekali anak yang mau disunat. Yang disunat hanya seorang, tetapi pengantarnya banyak sekali, seperti mengantar jamaah haji saja. Mulai orangtua, kakek nenek, paman, dan sudara mengantar si anak ke dokter Seno. Ruang tunggu penuh dengan pengantar.
Banyak sekali anak-anak yang dikhitan hari itu, tidak henti-hentinya anak-anak mengalir datang dan pergi. Saya juga melihat dua orang anak dari etnis Tionghoa menunggu giliran untuk dikhitan. Saya juga mendengar nama anak yang berbau nama baptis (Laurensius) dipanggil masuk ke ruang operasi. Rupanya para orangua yang non muslim sudah banyak yang menyadarai manfaat khitan ini sehingga merekapun membawa anak-anaknya khitan di klinik dokter Seno.
Alhamdulillah, masa sulit itu akhirnya berakhir. Hari ini tadi pagi sungguh terasa berat, tetapi sekarang sudah lega rasanya. Salah satu fase dalam kehidupan anak lelaki muslim akhirnya sudah berhasil dilewati. Tinggal menunggu penyembuhan selama tiga hari, dan selama tiga hari itu saya tidak ke kantor untuk merawat luka khitan di rumah. Di rumah luka jahitan setelah dikhitan harus rajin ditetes obat supaya cepat kering dan lekas sembuh. Mudah-mudahan setelah dikhitan anak-anak itu menjadi anak yang shaleh. Mereka sudah melaksanakan salah satu sunnah Rasul.
Sumber: rinaldimunir
Saturday, June 26, 2010
Penemu Metode Cincin untuk Khitan
Awalnya, Sofin Hadi tidak bercita-cita untuk menjadi dokter. “Setelah lulus SMAN 9 tahun 1982, saya diterima di IPB, UGM, UNS dan IKIP Negri Yogyakarta. Tapi guru saya, Bu Sunarti menyarankan agar saya masuk Kedokteran. Padahal pilihan pertama saya di Teknik Sipil UGM. Kata beliau, jarang lulusan SMA yang diterima di Fakultas Kedokteran UGM. Saran itu saya turuti.
Setamat dari Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta, tahun 1991, Sofin bekerja di RS Pertamina, Bontang, Kalimantan Timur sampai 1993. Karena adanya peraturan baru, ia kemudian diwajibkan untuk menjalani dinas dokter PTT (pegawai tidak tetap) dan ditempatkan di Puskesmas Merden, Banjarnegara, Jawa Tengah sampai 1996. Setelah itu Sofin dipercaya Yayasan Muhammadiyah untuk mendirikan RS PKU Muhammadiyah di situ dan sekaligus ia ditunjuk sebagai direkturnya sampai sekarang. Dasarnya suka teknik, sampai-sampai, rumah sakit yang saya pimpin juga saya gambar, rancang dan saya mandori sendiri pembangunannya”, tutur Sofin.
Di desa Merden inilah dr. Sofin Hadi sering mengkhitan. “Seperti kebanyakan masyarakat di sini, khitanan merupakan peristiwa besar. Jadi pakai menanggap hiburan segala. Untuk pelaksanaan khitan pun dipilih yang termahal, terbaik dan tercanggih alatnya. Bahkan yang kurang mampu pun sering memaksakan diri minta obat yang terampuh agar anaknya tidak kesakitan dan cepat sembuh”, kata Sofin.
Terdorong ingin memberikan pelayanan terbaik, tahun 1997 ia ikut-ikutan teman sesama dokter membeli cauter. Yaitu alat untuk menghentikan pendarahan, dari yang harga murah hingga yang mahal. “Saya juga membeli electro cautery sampai alat sinar laser seharga 10 juta rupiah. Tetapi hasil akhirnya tetap saja si anak harus melepas perban dan kesakitan”, ujarnya.
Hingga kemudian ada teman sejawatnya yang bilang bahwa di Jakarta ada alat khitan yang metodenya seperti dilaminating. Setelah ia ke Jakarta, alat itu ternyata tidak ada. Temannya yang lain ada lagi yang bilang bahwa di Semarang, ada alat khitan yang proses akhirnya seperti dikelim saja. “Saya pikir hebat sekali. Tetapi setelah saya cari, nyatanya juga nggak ada”.
Tahun 1999, mulai terlintas keinginan untuk membuat metode khitan sendiri tanpa keluar darah dan juga tidak memerlukan jahitan dengan mulai mereka-reka alat-alat yang akan digunakan. Ketika kemudian ada yang minta dikhitan, ia pun mencobakan hasil rekaannya tersebut, yakni dengan membuka ujung penis kemudian dipasang potongan spuit suntikan yang ia sebut penahan. Penahan itu dijepit dengan alat yang biasa digunakan di dunia medis, namun ternyata cara ini tidak nyaman, karena kemana pun si anak, penjepitnya harus ikut terus. Selain itu si anak juga jadi kesulitan untuk kencing.
Awal tahun 2000, Sofin mencoba lagi, kali ini penjepitnya diganti dengan benang yang ditalikan ke penahannya. Pada awalnya sukses, tapi kemudian alat kelamin si anak jadi berdarah. Ternyata benangnya lepas. Jika terjadi demikian, terpaksa kemudian ia harus melakukan khitan ulang secara konvensional.
Desember 2000, ketika Sofin mengganti oli mobil di bengkel, ia melihat orang membeli satu set ring yang terbuat dari karet dengan bermacam-macam ukuran. Saat itulah timbul idenya untuk memasangkan ring itu di tengah penahan khitan. Sayangnya, ia kesulitan menemukan alat untuk memasukkan ring itu ke tengah penahan. Sampai ia sempat mencoba menggunakan alat penjepit bulu mata. Namun hasilnya tetap gagal.
Akhirnya pada suatu malam di bulan Juli 2001, dr Sofin mengeluarkan seluruh peralatan operasi dan mengutak-atiknya. Di situlah ia mendapatkan alat yang bisa dipakai untuk memasang ring pada penahannya. “Saya sampai teriak, ketemu! Anak-anak saya yang sudah siap tidur sampai tanya, saya menemukan apa?” tuturnya.
Setelah itu, ia mendapat telepon dari temannya yang mau menikahkan anaknya dan meminta dia untuk mengkhitan calon menantunya yang akan masuk Islam. Jadilah hari itu, Minggu, 8 Juli 2001, si calon menantu yang datang kepadanya 2 jam sebelum menikah, dikhitan dengan metode cincin memakai aplikator yang baru dia temukan dan digunakan untuk pertama kalinya. Hasilnya pun memuaskan seperti diakui oleh pria tersebut. Setelah keberhasilannya ini, semakin banyak yang kemudian berkhitan dengan metode cincin temuannya. Mereka berdatangan dari Jakarta, Tegal dan Kudus.
Dr Sofin juga mengkonsultasikan temuannya dengan para dokter spesialis di RS PKU Muhammadiyah, Merden. Merekalah yang kemudian juga mendorongnya untuk mematenkannya. Adapun temuannya ini ia namakan “Sunat Cincin Metode Sofin”. Metode ini juga terbukti lebih ekonomis, aman dan praktis daripada cara konvesional. Biaya alat-alatnya hanya berkisar Rp 1.000,- saja, prosesnya lebih cepat (dr Sofin memperagakan pengkitanan 2 anak hanya dalam waktu 2 menit), hasilnya lebih rapi, ramah lingkungan, tidak banyak membuang kassa dan darah seperti halnya sunat konvensional. Orang yang baru disunat dengan cara biasa memerlukan obat bius dosis tinggi yang dari segi kimianya tidak ramah bagi tubuh. Metode khitan tanpa luka ini juga cocok bagi penderita hemofilia yang jika terluka dan berdarah sulit berhenti.
Pada Sabtu, 13 Oktober 2001, dr Sofin Hadi (37) mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Pihak MURI sendiri sebelumnya juga telah meminta rekomendasi dari IDI dan alim ulama atas temuan dr Sofin ini. Penghargaan berupa sertifikat pemecahan rekor ke-618 tersebut diberikan karena Sofin adalah orang pertama yang menemukan metode khitanan tanpa luka. “Bagi saya, ini merupakan bentuk pengakuan dari masyarakat atas hasil kerja saya. Jadi bukan sesuatu yang harus dibanggakan”, ujar Suami Kuswarasari Utami yang telah dikaruniai empat anak ini. (Rini Sulistyati) --- Sumber: Tabloid Nova, 11 November 2001 dan Harian Suara Merdeka, Selasa, 16 Oktober 2001.
Setamat dari Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta, tahun 1991, Sofin bekerja di RS Pertamina, Bontang, Kalimantan Timur sampai 1993. Karena adanya peraturan baru, ia kemudian diwajibkan untuk menjalani dinas dokter PTT (pegawai tidak tetap) dan ditempatkan di Puskesmas Merden, Banjarnegara, Jawa Tengah sampai 1996. Setelah itu Sofin dipercaya Yayasan Muhammadiyah untuk mendirikan RS PKU Muhammadiyah di situ dan sekaligus ia ditunjuk sebagai direkturnya sampai sekarang. Dasarnya suka teknik, sampai-sampai, rumah sakit yang saya pimpin juga saya gambar, rancang dan saya mandori sendiri pembangunannya”, tutur Sofin.
Di desa Merden inilah dr. Sofin Hadi sering mengkhitan. “Seperti kebanyakan masyarakat di sini, khitanan merupakan peristiwa besar. Jadi pakai menanggap hiburan segala. Untuk pelaksanaan khitan pun dipilih yang termahal, terbaik dan tercanggih alatnya. Bahkan yang kurang mampu pun sering memaksakan diri minta obat yang terampuh agar anaknya tidak kesakitan dan cepat sembuh”, kata Sofin.
Terdorong ingin memberikan pelayanan terbaik, tahun 1997 ia ikut-ikutan teman sesama dokter membeli cauter. Yaitu alat untuk menghentikan pendarahan, dari yang harga murah hingga yang mahal. “Saya juga membeli electro cautery sampai alat sinar laser seharga 10 juta rupiah. Tetapi hasil akhirnya tetap saja si anak harus melepas perban dan kesakitan”, ujarnya.
Hingga kemudian ada teman sejawatnya yang bilang bahwa di Jakarta ada alat khitan yang metodenya seperti dilaminating. Setelah ia ke Jakarta, alat itu ternyata tidak ada. Temannya yang lain ada lagi yang bilang bahwa di Semarang, ada alat khitan yang proses akhirnya seperti dikelim saja. “Saya pikir hebat sekali. Tetapi setelah saya cari, nyatanya juga nggak ada”.
Tahun 1999, mulai terlintas keinginan untuk membuat metode khitan sendiri tanpa keluar darah dan juga tidak memerlukan jahitan dengan mulai mereka-reka alat-alat yang akan digunakan. Ketika kemudian ada yang minta dikhitan, ia pun mencobakan hasil rekaannya tersebut, yakni dengan membuka ujung penis kemudian dipasang potongan spuit suntikan yang ia sebut penahan. Penahan itu dijepit dengan alat yang biasa digunakan di dunia medis, namun ternyata cara ini tidak nyaman, karena kemana pun si anak, penjepitnya harus ikut terus. Selain itu si anak juga jadi kesulitan untuk kencing.
Awal tahun 2000, Sofin mencoba lagi, kali ini penjepitnya diganti dengan benang yang ditalikan ke penahannya. Pada awalnya sukses, tapi kemudian alat kelamin si anak jadi berdarah. Ternyata benangnya lepas. Jika terjadi demikian, terpaksa kemudian ia harus melakukan khitan ulang secara konvensional.
Desember 2000, ketika Sofin mengganti oli mobil di bengkel, ia melihat orang membeli satu set ring yang terbuat dari karet dengan bermacam-macam ukuran. Saat itulah timbul idenya untuk memasangkan ring itu di tengah penahan khitan. Sayangnya, ia kesulitan menemukan alat untuk memasukkan ring itu ke tengah penahan. Sampai ia sempat mencoba menggunakan alat penjepit bulu mata. Namun hasilnya tetap gagal.
Akhirnya pada suatu malam di bulan Juli 2001, dr Sofin mengeluarkan seluruh peralatan operasi dan mengutak-atiknya. Di situlah ia mendapatkan alat yang bisa dipakai untuk memasang ring pada penahannya. “Saya sampai teriak, ketemu! Anak-anak saya yang sudah siap tidur sampai tanya, saya menemukan apa?” tuturnya.
Setelah itu, ia mendapat telepon dari temannya yang mau menikahkan anaknya dan meminta dia untuk mengkhitan calon menantunya yang akan masuk Islam. Jadilah hari itu, Minggu, 8 Juli 2001, si calon menantu yang datang kepadanya 2 jam sebelum menikah, dikhitan dengan metode cincin memakai aplikator yang baru dia temukan dan digunakan untuk pertama kalinya. Hasilnya pun memuaskan seperti diakui oleh pria tersebut. Setelah keberhasilannya ini, semakin banyak yang kemudian berkhitan dengan metode cincin temuannya. Mereka berdatangan dari Jakarta, Tegal dan Kudus.
Dr Sofin juga mengkonsultasikan temuannya dengan para dokter spesialis di RS PKU Muhammadiyah, Merden. Merekalah yang kemudian juga mendorongnya untuk mematenkannya. Adapun temuannya ini ia namakan “Sunat Cincin Metode Sofin”. Metode ini juga terbukti lebih ekonomis, aman dan praktis daripada cara konvesional. Biaya alat-alatnya hanya berkisar Rp 1.000,- saja, prosesnya lebih cepat (dr Sofin memperagakan pengkitanan 2 anak hanya dalam waktu 2 menit), hasilnya lebih rapi, ramah lingkungan, tidak banyak membuang kassa dan darah seperti halnya sunat konvensional. Orang yang baru disunat dengan cara biasa memerlukan obat bius dosis tinggi yang dari segi kimianya tidak ramah bagi tubuh. Metode khitan tanpa luka ini juga cocok bagi penderita hemofilia yang jika terluka dan berdarah sulit berhenti.
Pada Sabtu, 13 Oktober 2001, dr Sofin Hadi (37) mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Pihak MURI sendiri sebelumnya juga telah meminta rekomendasi dari IDI dan alim ulama atas temuan dr Sofin ini. Penghargaan berupa sertifikat pemecahan rekor ke-618 tersebut diberikan karena Sofin adalah orang pertama yang menemukan metode khitanan tanpa luka. “Bagi saya, ini merupakan bentuk pengakuan dari masyarakat atas hasil kerja saya. Jadi bukan sesuatu yang harus dibanggakan”, ujar Suami Kuswarasari Utami yang telah dikaruniai empat anak ini. (Rini Sulistyati) --- Sumber: Tabloid Nova, 11 November 2001 dan Harian Suara Merdeka, Selasa, 16 Oktober 2001.
Sunday, June 6, 2010
Khitan Mengurangi Resiko Kanker Serviks dan HIV
Khitan (sunat) diketahui dapat menurunkan resiko kanker serviks apa benar ya? Manfaat dari khitan itu apa saja? Karena saya selalu debat dengan istri saya.[Rajib W - Solo]
Jawaban :
Sudah menjadi rahasia umum, kalau kanker serviks hanya dialami wanita. Namun, bisa saja wanita tersebut tertular HPV dari suami atau partner seksualnya.
Beberapa studi yang baru dipublikasikan bulan Desember lalu menambah bukti bahwa sunat dapat melindungi pria dari virus AIDS yang mematikan dan virus yang menyebabkan kanker leher rahim (serviks). Laporan yang dimuat di dalam Journal of Infectious Disease dimungkinkan menambah fakta pria dan anak laki-laki harus disunat untuk melindungi kesehatan mereka dan kesehatan pasangan mereka (istri).
Dr. Bertran Auvert dari University of Versailles di Perancis dan koleganya di Afrika Utara menguji lebih dari 1.200 pria yang mengunjungi klinik di Afrika Utara. Mereka menemukan kurang dari 15% pria disunat dan 22% pria tidak disunat terkena infeksi Human Papilloma Virus (HPV) yang menyebabkan kanker serviks dan kutil kemaluan. Sedang Carrie Nielson dari Oregon Health & Science Univerisity dan koleganya menemukan beberapa indikasi bahwa sunat dapat melindungi pria. Pria disunat yang terkena HPV kira-kira setengahnya dari pria yang tidak disunat, setelah disesuaikan dengan perbedaan antara kedua kelompok.
Lee Warner dari US Centers for Disease Control and Prevention dan koleganya menguji pria Afro Amerika di Baltimore dan menemukan 10% dari mereka yang berisiko tinggi terinfeksi HIV ternyata disunat dibandingkan dengan 22% dari mereka yang tidak disunat.
Ketiga studi tersebut merupakan jawaban atas pertanyaan mengapa wanita yang bersuamikan pria yang telah disunat berisiko lebih rendah terkena kanker serviks dan dipercaya mempu meminimalkan penyebaran HIV. Anatomi alat kelamin pria diibaratkan seperti topi, saat buang air kecil sisa-sisa urine tertampung di situ. Melalui khitan, jadinya bersih dan tidak ada virus.
Sumber: Dr. Natasha
Jawaban :
Sudah menjadi rahasia umum, kalau kanker serviks hanya dialami wanita. Namun, bisa saja wanita tersebut tertular HPV dari suami atau partner seksualnya.
Beberapa studi yang baru dipublikasikan bulan Desember lalu menambah bukti bahwa sunat dapat melindungi pria dari virus AIDS yang mematikan dan virus yang menyebabkan kanker leher rahim (serviks). Laporan yang dimuat di dalam Journal of Infectious Disease dimungkinkan menambah fakta pria dan anak laki-laki harus disunat untuk melindungi kesehatan mereka dan kesehatan pasangan mereka (istri).
Dr. Bertran Auvert dari University of Versailles di Perancis dan koleganya di Afrika Utara menguji lebih dari 1.200 pria yang mengunjungi klinik di Afrika Utara. Mereka menemukan kurang dari 15% pria disunat dan 22% pria tidak disunat terkena infeksi Human Papilloma Virus (HPV) yang menyebabkan kanker serviks dan kutil kemaluan. Sedang Carrie Nielson dari Oregon Health & Science Univerisity dan koleganya menemukan beberapa indikasi bahwa sunat dapat melindungi pria. Pria disunat yang terkena HPV kira-kira setengahnya dari pria yang tidak disunat, setelah disesuaikan dengan perbedaan antara kedua kelompok.
Lee Warner dari US Centers for Disease Control and Prevention dan koleganya menguji pria Afro Amerika di Baltimore dan menemukan 10% dari mereka yang berisiko tinggi terinfeksi HIV ternyata disunat dibandingkan dengan 22% dari mereka yang tidak disunat.
Ketiga studi tersebut merupakan jawaban atas pertanyaan mengapa wanita yang bersuamikan pria yang telah disunat berisiko lebih rendah terkena kanker serviks dan dipercaya mempu meminimalkan penyebaran HIV. Anatomi alat kelamin pria diibaratkan seperti topi, saat buang air kecil sisa-sisa urine tertampung di situ. Melalui khitan, jadinya bersih dan tidak ada virus.
Sumber: Dr. Natasha
Tuesday, April 27, 2010
Anakku di khitan
Awal ceritanya di hari Senin tanggal 12 April 2010, ketika sore hari aku pulang dari kerja dan tak lama kemudian anakku Rafi juga pulang sekolah, kemudian sewaktu mau mandi , tiba tiba dia teriak dengan kencangnya lalu menangis..aku diamkan aja sambil menyisir rambut si kecil, dan biasanya dia teriak klo liat kecoa, tapi kok sepertinya nangisnya lain…lalu dia ke arahku sambil bilang,Ibu.. kencing Rafi kok darah! sontak aku kaget bukan main, lalu coba menyuruhnya untuk kencing lagi…ternyata masih darah juga keluar, tanpa menunggu lama2, cepat cepat kubawa dia ke klinik yang jaraknya sekitar 5 menit dari rumah, kebetulan sore itu hujan lebat bukan main..duh kasihan aku liat anakku, sepanjang jalan nangis terus…..kami berdua jalan kaki, karna ayahnya pun belum pulang kerja..
Sampai di klinik aku crita ke dokter Dani, akhirnya dia bilang terkena Infeksi saluran kemih saran dia sebaiknya di khitan saja, namun terlebih dahulu di obati infeksinya…baiklah pikirku dalam hati, akhirnya aku pulang dengan pikiran yang campur aduk….sementara rafi masih nangis gak berhenti, sampai dirumah aku suruh coba dia pipis masih juga bercampur dengan darah…
Akupun telpon ayahnya untuk segera pulang.. sesampainya dirumah,ayahnya juga aku, mencoba membujuk dengan menenangkan hatinya kataku, "klo cepat dikhitan,akan sembuh sakitnya dan gak kambuh lagi" yang ada jawabnya..iya, tapi kalo habis di khitan ganti HP baru ya Buk, Alamak !!! itu yang gak enak di dengar.. hehehe
Sebenarnya Rafi, sudah kambuh yang ketiga kalinya, dulu masih 3 tahun dan waktu TK.
Disamping itu juga dia sering nahan kencing klo disekolah, dengan alasan wcnya jorok, begitu juga habis pipis kadang tidak dibersihkan…itulah anak anak, susah dikasih tau….akhirnya kejadian deh :(
malamnyapun aku tak bisa tidur alias stress memikirkan si bocahku…kalo liat anak disunat sering, apalagi pernah ikut jadi panitia di acara sunatan massal, tapi klo anak sendiri yang ngalamin lain deh rasanya he..he..
Akhirnya karena masih penasaran, aku ambil second opinion untuk berobat lagi dan paginya aku coba bawa ke Rs.Awal Bros, disana di cek ke labor urinenya, hasilnya blooding positive dan bakterinya juga positive, dokter bilang Rafi mengalami phimosis, preputium tidak bisa ditarik ke belakang untuk membuka seluruh bagian kepala penis, sarannya juga sama setelah peradangan mereda, rasa nyeri berkemih membaik, lebih baik dilakukan sirkumsisi (khitan)agar peradangan dan kesulitan berkemih tidak terulang lagi.
No choice! akhirnya aku dan ayahnya sepakat untuk dikhitankan saja setelah membaik infeksinya….dan rafipun masuk sekolah seperti biasa, lalu ke sekolah untuk pamitan dengan gurunya kemudian cuti sekitar 5 hari....
Padahal, Aku dan Mbah utinya yang di Jogja dah punya rencana jauh jauh hari, klo Rafi libur sekolah sekalian khitan di Jogja aja, nanti di Bogem prambanan, seperti pakde pakdenya dulu hehe…
Namun semua hanyalah rencana..semuanya berpulang kepada Alloh SWT yang mengatur segalanya, sebagai hambanya kita hanya mampu menjalani, yang terpenting semuanya dapat berjalan dengan lancar…
Sebelumnya Pak dokter juga menawarkan jenis khitannya, ada yang konvensional (cara lama) atau laser…yang belum ada di rs terebut metode sunat dengan cara smart klamp, namun katanya biasanya terjadi pembengkakan dg metode yang terakhir tsb. Akhirnya kami sepakat menggunakan metode laser secara orang menyebutnya, namun aku lihat hanya menggunakan semacam cutter electric…kami memilih dengan laser karena prosesnya cepat dan tidak ada pendarahan atau sangat sedikit.
Hari Sabtu, 17 April 2010…kami pergi pagi pagi ke Rs.Awal Bros untuk mengantarkan Rafi khitan, di hari itu kebetulan Rafi dapat urutan no.3 jadi sekitar jam 1.30 siang …ditangani oleh Pak dokter spesialis urologi dr Syamsuhadi SpU …dan Alhamdulillah prosesnya berjalan dengan lancar.
Tragedi datang….
Dan sampai dirumah sekitar jam 2.30 siang…lalu karena kecapean semua pada ketiduran, sampai pada Rafi bangunin aku, katanya kok sepertinya ada yang mengalir di selangkangannya..aku coba liat ternyata memang betul , ada darah segar yang mengalir gak berhenti ! Waduh ada apalagi nih pikirku sambil sedikit panic, akhirnya buru buru kami bawa lagi ke RS.Awal Bros untuk di cek lagi, untung Pak dokternya masih ada, karena dr Syamsuhadi ternyata juga sebagai dr PNS di Bogor namun masih di perbantukan di Awal Bros menurut ceritanya...
Langsung masuk ruangan untuk di periksa oleh perawatnya, mulai deh Rafi nangis sekencang kencangnya ketika perbannya di buka oleh perawatnya, akupun jadi ikutan nangis ngeliatnya gak tega… pasti kesakitan yang luar biasa karena perban yang sudah melekat di jahitan di buka kembali…duh biyung……
Dokter Syamsu bilang kalau ada pembuluh yang terbuka dan akan ditambahkan 2 kali jahitan…Oh My GOD…gak kebayang banget Deh!!!
Awalnya mau disuntik bius tapi apa daya batang penis masih luka, jadi dg bius spray…tapi tetep aja sakit alias pedih..kamipun berempat, 2 perawat, aku dan ayahnya yang memegangi kaki dan tangan Rafi supaya pak Dokter bisa leluasa menjahit… Ya Alloh…kasihan banget bocahku…cepet sembuh ya Bang…
Di hari Rabunya 21 April, kamipun mengadakan Doa Syukuran sederhana untuk kesembuhan anakku Rafi, dengan mengundang pengajian mesjid bapak bapak, tetangga serta kerabat dekat…
Yang pasti, kami sekeluarga bahagia. Satu kewajiban pada anak lelaki telah kami tunaikan dengan baik. Harapan Ayah dan Ibu,”Semoga cepat Sembuh ya Abang Rafi”..dan cepat besar , Moga kelak menjadi anak yang Sholeh ya sayang, Amiin….
Sumber: Ibu Shella
Sampai di klinik aku crita ke dokter Dani, akhirnya dia bilang terkena Infeksi saluran kemih saran dia sebaiknya di khitan saja, namun terlebih dahulu di obati infeksinya…baiklah pikirku dalam hati, akhirnya aku pulang dengan pikiran yang campur aduk….sementara rafi masih nangis gak berhenti, sampai dirumah aku suruh coba dia pipis masih juga bercampur dengan darah…
Akupun telpon ayahnya untuk segera pulang.. sesampainya dirumah,ayahnya juga aku, mencoba membujuk dengan menenangkan hatinya kataku, "klo cepat dikhitan,akan sembuh sakitnya dan gak kambuh lagi" yang ada jawabnya..iya, tapi kalo habis di khitan ganti HP baru ya Buk, Alamak !!! itu yang gak enak di dengar.. hehehe
Sebenarnya Rafi, sudah kambuh yang ketiga kalinya, dulu masih 3 tahun dan waktu TK.
Disamping itu juga dia sering nahan kencing klo disekolah, dengan alasan wcnya jorok, begitu juga habis pipis kadang tidak dibersihkan…itulah anak anak, susah dikasih tau….akhirnya kejadian deh :(
malamnyapun aku tak bisa tidur alias stress memikirkan si bocahku…kalo liat anak disunat sering, apalagi pernah ikut jadi panitia di acara sunatan massal, tapi klo anak sendiri yang ngalamin lain deh rasanya he..he..
Akhirnya karena masih penasaran, aku ambil second opinion untuk berobat lagi dan paginya aku coba bawa ke Rs.Awal Bros, disana di cek ke labor urinenya, hasilnya blooding positive dan bakterinya juga positive, dokter bilang Rafi mengalami phimosis, preputium tidak bisa ditarik ke belakang untuk membuka seluruh bagian kepala penis, sarannya juga sama setelah peradangan mereda, rasa nyeri berkemih membaik, lebih baik dilakukan sirkumsisi (khitan)agar peradangan dan kesulitan berkemih tidak terulang lagi.
No choice! akhirnya aku dan ayahnya sepakat untuk dikhitankan saja setelah membaik infeksinya….dan rafipun masuk sekolah seperti biasa, lalu ke sekolah untuk pamitan dengan gurunya kemudian cuti sekitar 5 hari....
Padahal, Aku dan Mbah utinya yang di Jogja dah punya rencana jauh jauh hari, klo Rafi libur sekolah sekalian khitan di Jogja aja, nanti di Bogem prambanan, seperti pakde pakdenya dulu hehe…
Namun semua hanyalah rencana..semuanya berpulang kepada Alloh SWT yang mengatur segalanya, sebagai hambanya kita hanya mampu menjalani, yang terpenting semuanya dapat berjalan dengan lancar…
Sebelumnya Pak dokter juga menawarkan jenis khitannya, ada yang konvensional (cara lama) atau laser…yang belum ada di rs terebut metode sunat dengan cara smart klamp, namun katanya biasanya terjadi pembengkakan dg metode yang terakhir tsb. Akhirnya kami sepakat menggunakan metode laser secara orang menyebutnya, namun aku lihat hanya menggunakan semacam cutter electric…kami memilih dengan laser karena prosesnya cepat dan tidak ada pendarahan atau sangat sedikit.
Hari Sabtu, 17 April 2010…kami pergi pagi pagi ke Rs.Awal Bros untuk mengantarkan Rafi khitan, di hari itu kebetulan Rafi dapat urutan no.3 jadi sekitar jam 1.30 siang …ditangani oleh Pak dokter spesialis urologi dr Syamsuhadi SpU …dan Alhamdulillah prosesnya berjalan dengan lancar.
Tragedi datang….
Dan sampai dirumah sekitar jam 2.30 siang…lalu karena kecapean semua pada ketiduran, sampai pada Rafi bangunin aku, katanya kok sepertinya ada yang mengalir di selangkangannya..aku coba liat ternyata memang betul , ada darah segar yang mengalir gak berhenti ! Waduh ada apalagi nih pikirku sambil sedikit panic, akhirnya buru buru kami bawa lagi ke RS.Awal Bros untuk di cek lagi, untung Pak dokternya masih ada, karena dr Syamsuhadi ternyata juga sebagai dr PNS di Bogor namun masih di perbantukan di Awal Bros menurut ceritanya...
Langsung masuk ruangan untuk di periksa oleh perawatnya, mulai deh Rafi nangis sekencang kencangnya ketika perbannya di buka oleh perawatnya, akupun jadi ikutan nangis ngeliatnya gak tega… pasti kesakitan yang luar biasa karena perban yang sudah melekat di jahitan di buka kembali…duh biyung……
Dokter Syamsu bilang kalau ada pembuluh yang terbuka dan akan ditambahkan 2 kali jahitan…Oh My GOD…gak kebayang banget Deh!!!
Awalnya mau disuntik bius tapi apa daya batang penis masih luka, jadi dg bius spray…tapi tetep aja sakit alias pedih..kamipun berempat, 2 perawat, aku dan ayahnya yang memegangi kaki dan tangan Rafi supaya pak Dokter bisa leluasa menjahit… Ya Alloh…kasihan banget bocahku…cepet sembuh ya Bang…
Di hari Rabunya 21 April, kamipun mengadakan Doa Syukuran sederhana untuk kesembuhan anakku Rafi, dengan mengundang pengajian mesjid bapak bapak, tetangga serta kerabat dekat…
Yang pasti, kami sekeluarga bahagia. Satu kewajiban pada anak lelaki telah kami tunaikan dengan baik. Harapan Ayah dan Ibu,”Semoga cepat Sembuh ya Abang Rafi”..dan cepat besar , Moga kelak menjadi anak yang Sholeh ya sayang, Amiin….
Sumber: Ibu Shella
Monday, April 19, 2010
Bertambah Lagi Manfaat Sunat
Baltimore, AS, Manfaat sunat pada pria makin bertambah lagi. Selain bisa mengurangi risiko tertular HIV melalui hubungan seks heteroseksual, pria yang disunat juga jauh dari risiko terkena virus human pappiloma virus (HPV) yang menjadi penyebab penyakit
kelamin.
HPV adalah virus yang sangat umum dan terdiri lebih dari 100 strain yang sebagian besar menyebabkan kutil kelamin (genital warts). Infeksi beberapa jenis HPV yang menetap dapat menyebabkan kanker.
HPV juga adalah penyebab utama kanker serviks pada perempuan dan juga kanker penis serta kanker dubur. Sedangkan sistem kekebalan tubuh yang baik dapat membersihkan infeksi ini pada beberapa orang.
"Orang yang terinfeksi HIV seringkali juga menderita infeksi HPV dan karena sistem kekebalan tubuhnya rendah menjadi sangat rentan mengembangkan HPV yang terkait dengan kanker," ujar Prof Dr Ronald H. Gray dari Johns Hopkins University School of Public Health di Baltimore, seperti dikutip dari Reuters, Senin (19/4/2010).
Studi terkini yang dilaporkan dalam Journal of Infectious Diseases, menemukan bahwa sunat dapat menurunkan tingkat infeksi HPV penyebab kanker sebesar 33 persen pada laki-laki yang HIV-negatif dan sebesar 23 persen pada laki-laki yang HIV-positif. Hasil ini setelah masing-masing dibandingkan dengan laki-laki yang tidak disunat.
Penelitian ini melibatkan 210 laki-laki yang HIV-positif dan 840 laki-laki yang HIV-negatif dengan usia antara 15-49 tahun. Selain dapat mengurangi risiko infeksi HPV, sunat juga bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh yang membuat seseorang terhindar dari infeksi.
"Masalah HPV dan kanker yang terkait dengan HPV memang cukup berat di wilayah sub-Saharan Afrika, tapi kemungkinan sunat bisa memiliki manfaat dalam hal mencegah kanker pada laki-laki maupun perempuan," ujar Dr Gray yang juga menjadi peneliti senior dalam studi Uganda.
Organisasi kesehatan dunia (WHO) telah merekomendasikan sunat sebagai salah satu cara untuk menekan risiko HIV pada laki-laki. Selain itu di negara-negara yang memiliki kasus HIV tinggi, rekomendasi sunat tidak bisa dibantah kecuali karena ada alasan medis.
"Penurunan prevalensi HPV yang terkait dengan pelaksanaan sunat adalah signifikan namun sederhana," ujar Drs Raphael V. Viscidi dan Keerti V. Shah yang juga dari Johns Hopkins University.
Sunat diperkirakan mengurangi transmisi heteroseksual terhadap HIV dan penyakit seksual lainnya termasuk HPV yang dapat menyebabkan kutil kelamin melalui beberapa mekanisme.
Salah satunya adalah dengan mengurangi jumlah jaringan mukosa yang terkena saat melakukan hubungan seks, hal ini membuat akses virus masuk ke dalam tubuh target menjadi terbatas. Kulit menebal yang terbentuk di sekitar luka sunat bisa membantu menghambat masuknya virus ke dalam tubuh.
Sumber: Detik
kelamin.
HPV adalah virus yang sangat umum dan terdiri lebih dari 100 strain yang sebagian besar menyebabkan kutil kelamin (genital warts). Infeksi beberapa jenis HPV yang menetap dapat menyebabkan kanker.
HPV juga adalah penyebab utama kanker serviks pada perempuan dan juga kanker penis serta kanker dubur. Sedangkan sistem kekebalan tubuh yang baik dapat membersihkan infeksi ini pada beberapa orang.
"Orang yang terinfeksi HIV seringkali juga menderita infeksi HPV dan karena sistem kekebalan tubuhnya rendah menjadi sangat rentan mengembangkan HPV yang terkait dengan kanker," ujar Prof Dr Ronald H. Gray dari Johns Hopkins University School of Public Health di Baltimore, seperti dikutip dari Reuters, Senin (19/4/2010).
Studi terkini yang dilaporkan dalam Journal of Infectious Diseases, menemukan bahwa sunat dapat menurunkan tingkat infeksi HPV penyebab kanker sebesar 33 persen pada laki-laki yang HIV-negatif dan sebesar 23 persen pada laki-laki yang HIV-positif. Hasil ini setelah masing-masing dibandingkan dengan laki-laki yang tidak disunat.
Penelitian ini melibatkan 210 laki-laki yang HIV-positif dan 840 laki-laki yang HIV-negatif dengan usia antara 15-49 tahun. Selain dapat mengurangi risiko infeksi HPV, sunat juga bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh yang membuat seseorang terhindar dari infeksi.
"Masalah HPV dan kanker yang terkait dengan HPV memang cukup berat di wilayah sub-Saharan Afrika, tapi kemungkinan sunat bisa memiliki manfaat dalam hal mencegah kanker pada laki-laki maupun perempuan," ujar Dr Gray yang juga menjadi peneliti senior dalam studi Uganda.
Organisasi kesehatan dunia (WHO) telah merekomendasikan sunat sebagai salah satu cara untuk menekan risiko HIV pada laki-laki. Selain itu di negara-negara yang memiliki kasus HIV tinggi, rekomendasi sunat tidak bisa dibantah kecuali karena ada alasan medis.
"Penurunan prevalensi HPV yang terkait dengan pelaksanaan sunat adalah signifikan namun sederhana," ujar Drs Raphael V. Viscidi dan Keerti V. Shah yang juga dari Johns Hopkins University.
Sunat diperkirakan mengurangi transmisi heteroseksual terhadap HIV dan penyakit seksual lainnya termasuk HPV yang dapat menyebabkan kutil kelamin melalui beberapa mekanisme.
Salah satunya adalah dengan mengurangi jumlah jaringan mukosa yang terkena saat melakukan hubungan seks, hal ini membuat akses virus masuk ke dalam tubuh target menjadi terbatas. Kulit menebal yang terbentuk di sekitar luka sunat bisa membantu menghambat masuknya virus ke dalam tubuh.
Sumber: Detik
Subscribe to:
Posts (Atom)










