Komisi Maudluliyyah yang membahas masalah-masalah tematik menyerukan khitan (sunat) bagi perempuan, karena didukung sejumlah dalil yang menguatkan bahwa khitan tersebut hukumnya dapat menjadi sunnah atau wajib.
"Khitan mar`ah (perempuan) ini, dianjurkan dalam ajaran Islam, sehingga hukumnya bisa jadi sunnah bisa jadi wajib karena didukung hukum yang kuat," kata tim Komisi Maudluiyyah Dr M Masyuri Naim disela-sela Muktamar ke-32 Nahdlatul Ulama (NU) di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Jumat.
Menurut Rois Syuriah PBNU ini, masalah khitan perempuan di kalangan masyarakat masih diperdebatkan, bahkan karena sejumlah kasus akhirnya khitan perempuan itu dilarang. Seperti halnya kasus yang terjadi di Sudan dan di Bandung, Jawa Barat.
Dia mengatakan, persoalan kasuisstik itu hendaklah tidak melemahkan subtansinya atau hukum yang harusnya ditaati oleh penganut Agama Islam. Apabila ada kasus seperti itu, hendaklah tidak langsung diberlakukan secara general (umum).
"Ibarat seorang dokter melakukan kesalahan pada saat melakukan khitan, kemudian seluruh tempat praktek dokter ditutup," katanya.
Berkaitan dengan hal tersebut, lanjutnya, khitan perempuan ini perlu disosialisasikan agar akar rumput mengetahui secara jelas.
Mengenai adanya larangan khitan perempuan dari Departemen Kesehatan karena dianggap dapat menimbulkan seseorang menjadi frigid, apabila aturan dan anjuran Rasulullah SAW, hal itu tidak akan terjadi, karena ada kriteria-kriteria tertentu yang harus ditaati misalnya tidak boleh terlalu banyak memotong bagian ujung alat vital perempuan, tapi hanya mengikis semacam kulit arinya saja.
"Hari ketujuh pada saat kelahiran sangat dianjurkan, karena hal itu tidak akan mempengaruhi kesehatan atau menimbulkan pendarahan sepanjang mengikuti aturan yang ditetapkan," katanya.
Lebih jauh dia mengatakan, komisinya selain membahas masalah khitan perempuan, juga membahas tentang bid`ah (hal baru dalam agama). Sebagai gambaran, seseorang yang menggunakan celana panjang dan tidak memotongnya diatas mata kaki, langsung dicap sebagai kafir.
"NU tidak akan melakukan hal itu, karena disadari kami hanya legislator, bukan eksekutor. Namun selaku legislator, kami akan senantiasa memberikan petunjuk atau Juklak kepada pihak eksekutor jika ada hal-hal yang menyimpang dari ajaran Agama Islam," katanya.
Sumber: Antaranews
Friday, March 26, 2010
Wednesday, February 17, 2010
Khitan sebagai gaya hidup pencegahan HIV
Kabar baik bagi pria-pria yang telah dikhitan. Para ahli sepakat khitan terbukti efektif menekan penularan HIV. Jika dilakukan di seluruh dunia, 2 juta infeksi baru HIV bisa dicegah.
"Dua penelitian terakhir malah berhenti lebih awal, karena menunjukkan keefektifan yang tinggi tentang khitan dibanding kelompok kontrol yang menolak dikhitan," jelas peneliti dari Universitas Illinois, Amerika Serikat, Richard Bailey, dalam Konferensi Masyarakat AIDS Internasional di Sydney, Australia.
Kesimpulan tersebut didapat setelah 3 penelitian yang diadakan di Afrika. Semua penelitian membuktikan keefektifan khitan untuk mencegah penularan HIV. Khitan bisa
menurunkan resiko penularan HIV hingga 60 %.
Jika khitan ini dilakukan di seluruh dunia, maka bisa mencegah 2 juta infeksi baru HIV dan 3 ratus ribu kematian di sub-Sahara Afrika selama 10 tahun.
Bailey dalam konferensi itu juga mengajak pemimpin negara berkembang untuk mempromosikan khitan kepada warga laki-lakinya. Namun dia menyadari bahwa itu tidak mudah, karena khitan bukan hanya praktik medis sederhana. Khitan telah identik dengan budaya, agama, dan kepercayaan tertentu.
"Untuk itu tidak mudah bagi menteri kesehatan atau politisi untuk menyebarkan perlunya khitan di negara yang tidak punya tradisi itu," kata Bailey.
Namun jika promosi pentingnya khitan ini tidak dimulai dari sekarang, akan lebih berbahaya untuk jangka panjang, karena semakin banyak yang akan terinfeksi HIV.
"Waktu yang tepat adalah sekarang,"
Sumber: Pusat Informasi Penyakit Infeksi Khususnya HIV
"Dua penelitian terakhir malah berhenti lebih awal, karena menunjukkan keefektifan yang tinggi tentang khitan dibanding kelompok kontrol yang menolak dikhitan," jelas peneliti dari Universitas Illinois, Amerika Serikat, Richard Bailey, dalam Konferensi Masyarakat AIDS Internasional di Sydney, Australia.
Kesimpulan tersebut didapat setelah 3 penelitian yang diadakan di Afrika. Semua penelitian membuktikan keefektifan khitan untuk mencegah penularan HIV. Khitan bisa
menurunkan resiko penularan HIV hingga 60 %.
Jika khitan ini dilakukan di seluruh dunia, maka bisa mencegah 2 juta infeksi baru HIV dan 3 ratus ribu kematian di sub-Sahara Afrika selama 10 tahun.
Bailey dalam konferensi itu juga mengajak pemimpin negara berkembang untuk mempromosikan khitan kepada warga laki-lakinya. Namun dia menyadari bahwa itu tidak mudah, karena khitan bukan hanya praktik medis sederhana. Khitan telah identik dengan budaya, agama, dan kepercayaan tertentu.
"Untuk itu tidak mudah bagi menteri kesehatan atau politisi untuk menyebarkan perlunya khitan di negara yang tidak punya tradisi itu," kata Bailey.
Namun jika promosi pentingnya khitan ini tidak dimulai dari sekarang, akan lebih berbahaya untuk jangka panjang, karena semakin banyak yang akan terinfeksi HIV.
"Waktu yang tepat adalah sekarang,"
Sumber: Pusat Informasi Penyakit Infeksi Khususnya HIV
Wednesday, February 10, 2010
Khitan sebaiknya usia berapa?
Beberapa waktu yang lalu teman saya yang mempunyai anak laki-laki berusia sekitar 2,5 tahun cerita. bahwa sudah agak lama, anaknya sering demam tinggi, ketika ke dokter anak pasti penyebabnya karena ada infeksi di (maaf) alat kelamin putranya. Karena menumpuknya yang dalam medis disebut smegma (kotoran yang diproduksi). menurut beliau morfologi putranya mungkin agak berbeda ya sehingga mudah sekali terkena smegma yang sering bisamengakibatkan infeksi. melihat kondisi yang sering demam tinggi tersebut, sang ibu bertanya apakah gak sebaiknya di khitan aja sedari masih kecil ini, krn kalo cuman diobati tar muncul lagi smegma dan kembali demam tinggi. Namun saat itu dokter bilang belum perlu. Tapi sepertinya si Ibu berencana untuk mengkhitan lebih dini. Di negara kita khan seringnya khitan ketika usia2 SD kadang sampai usia kelas 5 SD.
ketika mendengar cerita ini, saya juga bilang : iya ya, sepertinya lebih dini mengkhitan lebih baik. Saya belum searching2 sih tentang kapan sebaiknya mengkhitan anak laki2 atau waktu yang pas. Si ibu juga cerita bahwa putra pertamanya dikhitan kelas 5 SD yang ternyata dah ada tanda2 puber. Nah lho..saya jadi kepikir secara putra sulung saya cowok, dalam hati sih batin tar InsyaAllah khitan agak awal ajah lah TK apa kelas 1 SD gitu.
beberapa waktu kemudian teman saya kembali cerita kalau putra 2,5 tahunnya dah dikhitan. Dikhitan sama dokter umum yang memang dah biasa mengkhitan. Saya ikut lega juga. beliau cerita InsyaAllah telah membuat keputusan yang tepat dengan kkhitan lebih dini demi kesehatan. kalau di luar negeri banyakan juga dikhitan ketika bayi tuk anak laki-laki.
3 hari setelah khitan, si anak kontrol kondisi baik, luka dah kering. Namun selang seminggu ternyata ada masalah lagi, dikonsul lagi dengan dokter yang mengkhitan ..ternyata oh ternyata : sunat gagal.. lemeslah si ibu mendengarnya.. Dan saya pun juga jd kaget dan ikut sedih bayanginya mendengar cerita ini. ternyata dr pengakuan si dokter bilang : kemarin karena masih kecil saya jadi hati-hati sekali, jadi kurang mengkhitannya. jadinya ini harus revisi. (glekkk).. Si ibu bilang : tulisan bisa direvisi…nha ini … duh duh… (speechless)
Sebenarnya si Ibu agak kesal juga dengan si dokter, dokternya juga tidak mau disalahin,karena belum pernah gagal selama ini. Namun ya si Ibu berusaha ikhlas dan mengupayakan langkah yang terbaik buat si anak.
Akhirnya si anak di bawa ke dokter spesialis bedah anak untuk dicek kondisinya. Dan memang sunatnya gagal serta terjadi yang disebut fimosis (terjadi pengkerutan atau penciutan kulit depan) dan harus di revisi (ini stilah dokternya) dengan kata lain di sunat ulang. Duh kasihan mendengarnya..namun demi yangterbaik harus tetap dilaksanakan. Si dokter memberi kelonggaran terserah kapan aja siapnya, namun orang tua anak tersebut merencanakan lebih cepat lebih baik.
setelah mendengar cerita ini yang sebelumnya saya kepikir juga untuk kalo khitan lebih dini, jadi berpikir lagi. mau browsing2 dulu tentang ini. Atau anda yang telah berpengalaman, minta sharingnya tentang sebaiknya usia berapa anak laki-laki dikhitan. Yuk sharing… Selain tentu saja mengikuti Sunah Rasulullah juga demi kesehatan.
Si ibu bercerita kepada saya, sebagai bentuk sharing danpengalaman mengingat anak saya juga laki-laki. beliau bilang : tar kalau khitan langsung aja sama dokter spesialis bedah anak.
dan beberapa selang setelah cerita ini, beliau cerita sudah menghubungi tempat praktek sang dokter spesialis bedah anak tersebut dan wow wow kaget ternyata biaya khitannya adalah min 3,5 juta.. eng ing eng saya jadi mikir : kok ya lebih mahalan biaya melahirkan yak . Si ibu juga kaget gak menyangka dengan biaya tersebut, 10 kali lipat dr biaya khitan dengan dokter umum. Namun karena ada masalah dengan khitan pertama putranya, si ibu tetap memilih dengan dokter spesialis bedah anak.
Dan ternyata di dua tempat praktek yang berbeda dengan dokter yang sama biayanya berbeda selisih kurang lebih separuh.. wow ..fenomena apa ini ya? dokter yang sama, tapi tempat praktek berbeda harga beda jauh. beliau milih yang tempat praktek yang lebih kecil namun dengan dokter yang sama dengan biaya separuh dr RS satunya. Kemungkinan yang kita pikirkan kenapa biaya berbeda adalah karena satunya adalah RSIA besar dan satunya hanya klinik bersalin, kemungkinan di RSIA yang besar plus tambah biaya2 macam2 dimana fasilitasnya lebih oke ..(hmm..tapi khan khitan gak pk nginep yak).. kalau kita pikir di dua tempat berbeda tersebut secara kenyamanan berbeda ya..tapi dengan dokter yang sama saya percaya dokter gak akan beda bedain kemampuan sesuai kelas RS kan hehehe (semoga).. jadi ya oke juga pilihan dengan dokter yang sama namun tempat praktek beda dan harga yang separuhnya…yang kita utamakan kan jasa dan kemampuan dokternya (saya kan gak beli mereknya)
Apapun itu…semoga buat putra teman saya , khitan yang kedua dapat berjalan lancar dan sukses, serta sehat selalu… (sampai ini ditulis khitan belum dilaksanakan..masih seminggu lagi dijadwalkan.)
Oiya..tentang biaya khitan dokter spesialis bedah anak yang mencapai 3,5 juta.. Si Ayahnya Affan bilang : di desaku, semua kl khitan ke pak bong (yang sering mengkhitan didesa disebut Pak bong) boleh cuman bawa gula teh… hahaha si Ayah ini
Pas cerita ini keteman-teman pada bilang: sama ajah kan ya hasilnya.
Sumber: Omietha
ketika mendengar cerita ini, saya juga bilang : iya ya, sepertinya lebih dini mengkhitan lebih baik. Saya belum searching2 sih tentang kapan sebaiknya mengkhitan anak laki2 atau waktu yang pas. Si ibu juga cerita bahwa putra pertamanya dikhitan kelas 5 SD yang ternyata dah ada tanda2 puber. Nah lho..saya jadi kepikir secara putra sulung saya cowok, dalam hati sih batin tar InsyaAllah khitan agak awal ajah lah TK apa kelas 1 SD gitu.
beberapa waktu kemudian teman saya kembali cerita kalau putra 2,5 tahunnya dah dikhitan. Dikhitan sama dokter umum yang memang dah biasa mengkhitan. Saya ikut lega juga. beliau cerita InsyaAllah telah membuat keputusan yang tepat dengan kkhitan lebih dini demi kesehatan. kalau di luar negeri banyakan juga dikhitan ketika bayi tuk anak laki-laki.
3 hari setelah khitan, si anak kontrol kondisi baik, luka dah kering. Namun selang seminggu ternyata ada masalah lagi, dikonsul lagi dengan dokter yang mengkhitan ..ternyata oh ternyata : sunat gagal.. lemeslah si ibu mendengarnya.. Dan saya pun juga jd kaget dan ikut sedih bayanginya mendengar cerita ini. ternyata dr pengakuan si dokter bilang : kemarin karena masih kecil saya jadi hati-hati sekali, jadi kurang mengkhitannya. jadinya ini harus revisi. (glekkk).. Si ibu bilang : tulisan bisa direvisi…nha ini … duh duh… (speechless)
Sebenarnya si Ibu agak kesal juga dengan si dokter, dokternya juga tidak mau disalahin,karena belum pernah gagal selama ini. Namun ya si Ibu berusaha ikhlas dan mengupayakan langkah yang terbaik buat si anak.
Akhirnya si anak di bawa ke dokter spesialis bedah anak untuk dicek kondisinya. Dan memang sunatnya gagal serta terjadi yang disebut fimosis (terjadi pengkerutan atau penciutan kulit depan) dan harus di revisi (ini stilah dokternya) dengan kata lain di sunat ulang. Duh kasihan mendengarnya..namun demi yangterbaik harus tetap dilaksanakan. Si dokter memberi kelonggaran terserah kapan aja siapnya, namun orang tua anak tersebut merencanakan lebih cepat lebih baik.
setelah mendengar cerita ini yang sebelumnya saya kepikir juga untuk kalo khitan lebih dini, jadi berpikir lagi. mau browsing2 dulu tentang ini. Atau anda yang telah berpengalaman, minta sharingnya tentang sebaiknya usia berapa anak laki-laki dikhitan. Yuk sharing… Selain tentu saja mengikuti Sunah Rasulullah juga demi kesehatan.
Si ibu bercerita kepada saya, sebagai bentuk sharing danpengalaman mengingat anak saya juga laki-laki. beliau bilang : tar kalau khitan langsung aja sama dokter spesialis bedah anak.
dan beberapa selang setelah cerita ini, beliau cerita sudah menghubungi tempat praktek sang dokter spesialis bedah anak tersebut dan wow wow kaget ternyata biaya khitannya adalah min 3,5 juta.. eng ing eng saya jadi mikir : kok ya lebih mahalan biaya melahirkan yak . Si ibu juga kaget gak menyangka dengan biaya tersebut, 10 kali lipat dr biaya khitan dengan dokter umum. Namun karena ada masalah dengan khitan pertama putranya, si ibu tetap memilih dengan dokter spesialis bedah anak.
Dan ternyata di dua tempat praktek yang berbeda dengan dokter yang sama biayanya berbeda selisih kurang lebih separuh.. wow ..fenomena apa ini ya? dokter yang sama, tapi tempat praktek berbeda harga beda jauh. beliau milih yang tempat praktek yang lebih kecil namun dengan dokter yang sama dengan biaya separuh dr RS satunya. Kemungkinan yang kita pikirkan kenapa biaya berbeda adalah karena satunya adalah RSIA besar dan satunya hanya klinik bersalin, kemungkinan di RSIA yang besar plus tambah biaya2 macam2 dimana fasilitasnya lebih oke ..(hmm..tapi khan khitan gak pk nginep yak).. kalau kita pikir di dua tempat berbeda tersebut secara kenyamanan berbeda ya..tapi dengan dokter yang sama saya percaya dokter gak akan beda bedain kemampuan sesuai kelas RS kan hehehe (semoga).. jadi ya oke juga pilihan dengan dokter yang sama namun tempat praktek beda dan harga yang separuhnya…yang kita utamakan kan jasa dan kemampuan dokternya (saya kan gak beli mereknya)
Apapun itu…semoga buat putra teman saya , khitan yang kedua dapat berjalan lancar dan sukses, serta sehat selalu… (sampai ini ditulis khitan belum dilaksanakan..masih seminggu lagi dijadwalkan.)
Oiya..tentang biaya khitan dokter spesialis bedah anak yang mencapai 3,5 juta.. Si Ayahnya Affan bilang : di desaku, semua kl khitan ke pak bong (yang sering mengkhitan didesa disebut Pak bong) boleh cuman bawa gula teh… hahaha si Ayah ini
Pas cerita ini keteman-teman pada bilang: sama ajah kan ya hasilnya.
Sumber: Omietha
Monday, August 17, 2009
Rupanya... Banyak Pria Tak Bersunat
Tahukah Anda, menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan lembaga PBB yang menangani masalah AIDS (UNAIDS), diperkirakan hanya 30 persen pria berusia 15 tahun ke atas yang disunat di seluruh dunia.
Jumlah pria bersunat itu ternyata sangat bergantung pada agama dan suku bangsa. Hampir semua pria Yahudi dan Muslim disunat. Bila digabung, total jumlah pria bersunat dari dua agama tersebut mencapai 70 persen secara global.
Sementara itu, Amerika Serikat menduduki proporsi terbesar dalam jumlah pria yang disunat tanpa alasan agama. Hampir 75 persen pria AS yang non-Muslim dan non-Yahudi disunat. Bandingkan dengan Kanada yang hanya 30 persen, Inggris 20 persen, dan Australia yang hanya 6 persen pria. Saat ini, diperkirakan 65 persen bayi laki-laki yang baru lahir di AS langsung disunat.
Beberapa waktu lalu, WHO memang telah merekomendasikan sunat pada pria untuk mencegah infeksi HIV. Menurut penelitian, sunat pada pria bisa mengurangi infeksi HIV hingga 60 persen. Meski demikian, untuk mencegah penularan HIV lewat hubungan seksual, mereka disarankan untuk tetap memakai kondom.
Sumber: Kompas
Jumlah pria bersunat itu ternyata sangat bergantung pada agama dan suku bangsa. Hampir semua pria Yahudi dan Muslim disunat. Bila digabung, total jumlah pria bersunat dari dua agama tersebut mencapai 70 persen secara global.
Sementara itu, Amerika Serikat menduduki proporsi terbesar dalam jumlah pria yang disunat tanpa alasan agama. Hampir 75 persen pria AS yang non-Muslim dan non-Yahudi disunat. Bandingkan dengan Kanada yang hanya 30 persen, Inggris 20 persen, dan Australia yang hanya 6 persen pria. Saat ini, diperkirakan 65 persen bayi laki-laki yang baru lahir di AS langsung disunat.
Beberapa waktu lalu, WHO memang telah merekomendasikan sunat pada pria untuk mencegah infeksi HIV. Menurut penelitian, sunat pada pria bisa mengurangi infeksi HIV hingga 60 persen. Meski demikian, untuk mencegah penularan HIV lewat hubungan seksual, mereka disarankan untuk tetap memakai kondom.
Sumber: Kompas
Thursday, July 16, 2009
Sunat pada pria tidak lindungi wanita dari HIV
Hasil studi menemukan, meski risiko penularan HIV lebih rendah pada pria yang disunat, hal itu tidak otomatis melindungi wanita. Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah The Lancet.
Pencegahan penularan HIV pada pria bersunat membuat para aktivitis AIDS optimis angka penularan human immunodeficiency virus (HIV) bisa ditekan. Terlebih penelitian menunjukkan risiko terinfeksi HIV pada pria yang disunat 76 persen lebih rendah.
Kemudian muncul pertanyaan, apakah sunat pada pria juga bisa melindungi pasangan seksualnya dari kemungkinan tertular HIV? Ternyata jawabannya sangat jelas, "Tidak".
Kesimpulan itu dihasilkan berdasarkan studi yang dilakukan secara acak terhadap 992 pria di Uganda, Afrika, berusia 15-49 tahun yang belum disunat. Mereka sudah terinfeksi HIV tapi belum menunjukkan gejala apa pun.
Setengah dari responden kemudian disunat, sedang sisanya tidak. Wanita yang menjadi pasangan para responden kemudian didata, ada 90 wanita dari kelompok yang disunat dan 70 pada kelompok pria tak disunat. Seluruh responden secara intensif mengikuti kursus pencegahan HIV.
Analisa data dua tahun kemudian dengan jelas menunjukkan tidak adanya pengaruh sunat pada perempuan. Sebanyak 18 persen wanita dari kelompok disunat telah terinfeksi HIV dan 12 persen pada kelompok tidak disunat. Kebanyakan penularan terjadi sekitar 6 bulan setelah proses sunat.
Menurut para ahli, hal itu mungkin terjadi karena para pria melakukan hubungan intim sebelum luka sunat sembuh sempurna, sehingga darah yang terinfeksi HIV masuk lewat vagina.
Meski demikan, para ahli berpendapat kampanye sunat pada pria tetap valid. "Walau wanita tidak secara langsung mendapat manfaat dari sunat pada pria, namun mereka dapat manfaat tidak langsung, lebih sedikit pria yang terinfeksi, makin rendah risiko penularan pada wanita," kata Maria Waver, dokter peneliti dari John Hopkins Bloomberg School of Public Health, AS.
Para ahli menyebutkan, kulit luar ujung atau kepala penis merupakan jalan masuk virus HIV. Pada kulit paling luar dari ujung penis atau kulup ada banyak sel yang rawan terinfeksi virus HIV. Bagian yang dipotong dalam proses sunat ini dilapisi kulit tipis yang mudah lecet saat berhubungan intim. Padahal, virus bisa menyebar dari luka sekecil apa pun.
Oleh karena itu, penis yang tidak disunat lebih mudah menyebarkan virus HIV. Sebab, kondisi lingkungan di lipatan kulup yang lembab dan basah menjadi tempat kondusif bertahannya virus HIV. Kulup basah juga membantu penularan infeksi menular penyakit lain.
Sumber: Kompas
Pencegahan penularan HIV pada pria bersunat membuat para aktivitis AIDS optimis angka penularan human immunodeficiency virus (HIV) bisa ditekan. Terlebih penelitian menunjukkan risiko terinfeksi HIV pada pria yang disunat 76 persen lebih rendah.
Kemudian muncul pertanyaan, apakah sunat pada pria juga bisa melindungi pasangan seksualnya dari kemungkinan tertular HIV? Ternyata jawabannya sangat jelas, "Tidak".
Kesimpulan itu dihasilkan berdasarkan studi yang dilakukan secara acak terhadap 992 pria di Uganda, Afrika, berusia 15-49 tahun yang belum disunat. Mereka sudah terinfeksi HIV tapi belum menunjukkan gejala apa pun.
Setengah dari responden kemudian disunat, sedang sisanya tidak. Wanita yang menjadi pasangan para responden kemudian didata, ada 90 wanita dari kelompok yang disunat dan 70 pada kelompok pria tak disunat. Seluruh responden secara intensif mengikuti kursus pencegahan HIV.
Analisa data dua tahun kemudian dengan jelas menunjukkan tidak adanya pengaruh sunat pada perempuan. Sebanyak 18 persen wanita dari kelompok disunat telah terinfeksi HIV dan 12 persen pada kelompok tidak disunat. Kebanyakan penularan terjadi sekitar 6 bulan setelah proses sunat.
Menurut para ahli, hal itu mungkin terjadi karena para pria melakukan hubungan intim sebelum luka sunat sembuh sempurna, sehingga darah yang terinfeksi HIV masuk lewat vagina.
Meski demikan, para ahli berpendapat kampanye sunat pada pria tetap valid. "Walau wanita tidak secara langsung mendapat manfaat dari sunat pada pria, namun mereka dapat manfaat tidak langsung, lebih sedikit pria yang terinfeksi, makin rendah risiko penularan pada wanita," kata Maria Waver, dokter peneliti dari John Hopkins Bloomberg School of Public Health, AS.
Para ahli menyebutkan, kulit luar ujung atau kepala penis merupakan jalan masuk virus HIV. Pada kulit paling luar dari ujung penis atau kulup ada banyak sel yang rawan terinfeksi virus HIV. Bagian yang dipotong dalam proses sunat ini dilapisi kulit tipis yang mudah lecet saat berhubungan intim. Padahal, virus bisa menyebar dari luka sekecil apa pun.
Oleh karena itu, penis yang tidak disunat lebih mudah menyebarkan virus HIV. Sebab, kondisi lingkungan di lipatan kulup yang lembab dan basah menjadi tempat kondusif bertahannya virus HIV. Kulup basah juga membantu penularan infeksi menular penyakit lain.
Sumber: Kompas
Tuesday, June 9, 2009
Bong Supit Bogem
Bogem aselinya adalah bong supit (juru khitan, sunat, bengkong) kenamaan di daerah Prambanan – Jawa Tengah. Pelanggannya banyak sehingga mereka buka cabang dimana-mana, termasuk Jakarta.
Tanggal 19 Juni lalu, sekitar jam 03:00 saya sudah berada di jalan PKP/Kiwi no 1A Kelapa Dua Wetan Ciracas. Sebetulnya saya siapkan potret untuk kenang-kenangan, misalnya mengabadikan alamatnya, suasana penyembelihan (serem). Namun gara-gara parkirnya sudah sesak (jam 3:30 dinihari), saya sempat berkutat berapa lama dengan mas Parkir. Maksudnya sih agar jangan mengganggu lalu lintas sekitar bengkong (juru supit). Harap maklum liburan anak sekolah biasanya diisi oleh khitanan.
Betul saja, waktu saya masuk ruang tunggu ternyata Gilang sudah di panggil. Hanya ayahnya yang tadinya gagah kepingin mengabadikan sang putra, kini dia merasa mual.
Tadinya dia “aksi” bilang ke istrinya agar jangan mengusik kami pakdenya. “Masak sedikit-sedikit minta tolong Pakde dan Bude, malu lah..”
Ketika azan subuh dikumandangkan. Gilang sudah berbaring diruang recovery.
Berkali-kali kedua orang tua Gilang mencoba mengabadikan pakai HP. Tapi gagal lantaran lampu penerangan di ruang recovery yang temaram HPnya macet. Dan tidak sia-sia saya selalu mengantungi kamera kemana pergi. Kali ini kamera beraksi, cekrak-cekrek.
Saya saksikan gilang dan temannya nampak santai, sumeleh. Tidak nampak ketakutan atau kesakitan diwajahnya. Bahkan ada teman se-kloter sudah mengiba mamanya untuk bisa main bola setelah sunat ini.
Setelah ada enam anak dari kloter gilang dibaringkan, bong supit menjelaskan obat bubuk untuk di taburkan pada luka (hanya kalau berdarah), lalu obat penghilang rasa sakit kalau nanti efek bius sudah hilang. Dan pelbagai nasihat – untuk tidak mandi selama dua hari (diseka air saja). Bahkan didemonstrasikan cara menggunakan panti liner sebagai pembalut luka. Seperti lagu dangdut ..Teganya..teganya
Kepada Gilang, mengingat tubuhnya yang tambun diminta datang dua hari mendatang. Bong supit bilang, penisnya kecil (saya kepikiran akan usul ke salon mak erot), mungkin hasil salon supit tidak maksimal. Belakangan saya tahu bahwa kekuatiran akan penis kecil sementara boleh disingkirkan. Gilang tetap normal.
Lalu saya ingat pada 14 Nopember 1966, bersamaan dengan uang kita di sunat dari 1000 rupiah menjadi satu rupiah, maka secara rombongan saya dikirim ke poliklinik Brimob untuk menjalani salon khusus pria.
Sakitnya – ampun ampun. Dua kali suntikan bius tidak berefek seperti diharapkan. Bukan saya yang kebal, tetapi harap maklum, jaman perang konfrontasi dengan Malaysia, semua serba darurat dan miskin. Obat-obatan kadaluwarsapun dijeksikan kepada pasien. Ketimbang tidak ada.
Sebulan saya tidak bisa sekolah sebab terjadi infeksi. Begitu juga ketika anak bungsu saya disunat, dia nampak menderita dan memakan waktu penyembuhan sampai lebih dari dua minggu. Lha kok ini bisa berbeda sama sekali.
Tapi – kepada orang tua Gilang saya tanyakan, apa sih alasan mendasar menggunakan jasa salon “lelaki” Bong Bogem.
Pertama, selain prosedur kerja yang cepat, maka nilai “non alamiah” – yang ingin dicapai adalah banyak alumnus salon ini bisanya sebagian besar sukses di kehidupan. Jadi mengapa tidak berharap doa sang bongsupit yang manjur.
ALAMAT
Bong Supit Bogem
Jalan PKP no 1A Kelapa Dua, Ciracas, Jakarta Timur.
Sumber: Mimbarsaputro
Tanggal 19 Juni lalu, sekitar jam 03:00 saya sudah berada di jalan PKP/Kiwi no 1A Kelapa Dua Wetan Ciracas. Sebetulnya saya siapkan potret untuk kenang-kenangan, misalnya mengabadikan alamatnya, suasana penyembelihan (serem). Namun gara-gara parkirnya sudah sesak (jam 3:30 dinihari), saya sempat berkutat berapa lama dengan mas Parkir. Maksudnya sih agar jangan mengganggu lalu lintas sekitar bengkong (juru supit). Harap maklum liburan anak sekolah biasanya diisi oleh khitanan.
Betul saja, waktu saya masuk ruang tunggu ternyata Gilang sudah di panggil. Hanya ayahnya yang tadinya gagah kepingin mengabadikan sang putra, kini dia merasa mual.
Tadinya dia “aksi” bilang ke istrinya agar jangan mengusik kami pakdenya. “Masak sedikit-sedikit minta tolong Pakde dan Bude, malu lah..”
Ketika azan subuh dikumandangkan. Gilang sudah berbaring diruang recovery.
Berkali-kali kedua orang tua Gilang mencoba mengabadikan pakai HP. Tapi gagal lantaran lampu penerangan di ruang recovery yang temaram HPnya macet. Dan tidak sia-sia saya selalu mengantungi kamera kemana pergi. Kali ini kamera beraksi, cekrak-cekrek.
Saya saksikan gilang dan temannya nampak santai, sumeleh. Tidak nampak ketakutan atau kesakitan diwajahnya. Bahkan ada teman se-kloter sudah mengiba mamanya untuk bisa main bola setelah sunat ini.
Setelah ada enam anak dari kloter gilang dibaringkan, bong supit menjelaskan obat bubuk untuk di taburkan pada luka (hanya kalau berdarah), lalu obat penghilang rasa sakit kalau nanti efek bius sudah hilang. Dan pelbagai nasihat – untuk tidak mandi selama dua hari (diseka air saja). Bahkan didemonstrasikan cara menggunakan panti liner sebagai pembalut luka. Seperti lagu dangdut ..Teganya..teganya
Kepada Gilang, mengingat tubuhnya yang tambun diminta datang dua hari mendatang. Bong supit bilang, penisnya kecil (saya kepikiran akan usul ke salon mak erot), mungkin hasil salon supit tidak maksimal. Belakangan saya tahu bahwa kekuatiran akan penis kecil sementara boleh disingkirkan. Gilang tetap normal.
Lalu saya ingat pada 14 Nopember 1966, bersamaan dengan uang kita di sunat dari 1000 rupiah menjadi satu rupiah, maka secara rombongan saya dikirim ke poliklinik Brimob untuk menjalani salon khusus pria.
Sakitnya – ampun ampun. Dua kali suntikan bius tidak berefek seperti diharapkan. Bukan saya yang kebal, tetapi harap maklum, jaman perang konfrontasi dengan Malaysia, semua serba darurat dan miskin. Obat-obatan kadaluwarsapun dijeksikan kepada pasien. Ketimbang tidak ada.
Sebulan saya tidak bisa sekolah sebab terjadi infeksi. Begitu juga ketika anak bungsu saya disunat, dia nampak menderita dan memakan waktu penyembuhan sampai lebih dari dua minggu. Lha kok ini bisa berbeda sama sekali.
Tapi – kepada orang tua Gilang saya tanyakan, apa sih alasan mendasar menggunakan jasa salon “lelaki” Bong Bogem.
Pertama, selain prosedur kerja yang cepat, maka nilai “non alamiah” – yang ingin dicapai adalah banyak alumnus salon ini bisanya sebagian besar sukses di kehidupan. Jadi mengapa tidak berharap doa sang bongsupit yang manjur.
ALAMAT
Bong Supit Bogem
Jalan PKP no 1A Kelapa Dua, Ciracas, Jakarta Timur.
Sumber: Mimbarsaputro
Monday, March 30, 2009
Kurangi penularan HIV.. yuk sunat
Sunat ternyata juga mengurangi risiko terinfeksi virus HIV dua sampai delapan kali lipat.
Infeksi virus HIV dikatakan bisa muncul selama berhubungan seks dan penularan virus HIV pada pria biasanya melalui penis.
Demikian dikatakan Direktur Pelayanan Kesehatan Yayasan Kusuma Buana, Adi Sasongko dalam temu media di Rumah Makan Empu Sendok, di Jakarta, Selasa (31/3).
Sejauh ini berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana sunat pada pria dapat mengurangi risiko terinfeksi HIV.
Menurut Carlos R Estrada dan rekan-rekannya dari Pusat Kesehatan St Lukes Rush Presbyterian di Chicago, Illinois, sekitar 80 persen infeksi HIV biasanya muncul selama berhubungan intim.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Sekretariat Badan Dunia untuk Penanggulangan AIDS (UNAIDS) mempertemukan para ahli internasional dalam sebuah konsultasi untuk menentukan apakah sunat pada pria sebaiknya dianjurkan bagi upaya pencegahan infeksi HIV.
Setelah dilakukan riset, hasilnya sunat pada pria mampu mengurangi risiko infeksi HIV melalui hubungan heteroseksual pada pria 60 persen. Lalu, apa hubungannya sunat dengan pengurangan risiko penularan HIV/AIDS?
Kepala penis, jelas Adi, merupakan faktor penting dalam penularan virus HIV/AIDS. Kulit luar ujung atau kepala penis memegang peranan penting dalam jalan masuknya virus HIV.
Pada kulit paling luar dari ujung atau kepala penis terdapat sel-sel yang sangat peka terhadap virus HIV. Bagian yang dipotong dalam proses sunat ini dilapisi kulit yang amat tipis. Bagian ini mudah luka saat berhubungan seksual daripada kulit di belakangnya.
Maka dari itu, virus dapat menyebar dari luka sekecil apa pun. Penis yang tidak disunat lebih mudah menyebarkan virus HIV terhadap pasangannya karena bagian kulit di ujung penis atau kulup yang lembap dan basah itu menjadi tempat yang cocok bagi virus HIV untuk hidup.
Kulup yang basah juga berpotensi membantu penularan berbagai penyakit seksual lain. Dengan disunat, otomatis kulit penis akan terbuka sehingga berisiko rendah terhadap infeksi virus HIV.
Menurut data penelitian dari Halperin dan Bailey sebagaimana dikutip Adi, negara-negara Asia dan Afrika dengan prevalensi populasi laki-laki disunat kurang dari 20 persen mempunyai prevalensi HIV beberapa kali lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara dengan populasi laki-laki disunat yang lebih dari 80 persen.
Hasil serupa, ujar Adi, juga ditemui dalam penelitian di Afrika Selatan, Kenya, dan Uganda. Ternyata risiko penularan HIV lebih rendah pada laki-laki disunat dibandingkan dengan yang tidak sunat.
Afrika Selatan 76 persen lebih rendah, Kenya 60 persen lebih rendah, sedangkan Uganda 55 persen lebih rendah. "Kenapa Afrika, karena di daerah tersebut terdapat penderita HIV/AIDS paling banyak, yaitu 22 juta orang," katanya.
Namun, jangan salah, sunat tidak otomatis membuat laki-laki kebal terhadap HIV/AIDS. "Sunat hanya mengurangi risiko penularan HIV/AIDS saja," tegasnya.
Bukan satu-satunya
Sunat bukan satu-satunya metode pencegahan penularan HIV yang bisa dilakukan. Pencegahan penularan HIV juga mesti dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah melalui promosi penggunaan kondom dan tidak melakukan kegiatan yang berisiko menularkan HIV kepada orang lain.
"Kampanye dan sosialisasi penularan serta pencegahan HIV/AIDS harus berkesinambungan disertai peningkatan akses pelayanan pemeriksaan dan pengobatan bagi orang dengan HIV," kata Manajer Program Penanggulangan AIDS pada Kelompok Berisiko Tinggi Yayasan Kusuma Buana Rediscoveri Nitta. Kelompok berisiko tinggi tertular penyakit menular seksual dan HIV adalah para pekerja seks dan pengguna narkoba suntik.
Sumber: Kompas
Subscribe to:
Posts (Atom)

